Cute Angel - Fiha Blog

Wednesday, November 2, 2016

Merasa Sepi Walau Dalam Keramaian





Setiap dari kita pasti pernah merasa kesepian. Yang membuat perbedaan adalah kadarnya, lamanya, Image result for kesepian sedihpenyebabnya dan tentu saja penanganannya. Kebanyakan orang menghindari kesepian karena kesepian berkonotasi negatif, atau paling tidak menimbulkan perasaan tidak menyenangkan.
Seseorang bisa saja memiliki banyak teman dan keluarga, tetapi jauh di dalam hatinya ia tetap merasa sendiri. Penyebabnya, karena merasa tidak dimengerti, tidak didengarkan, atau merasa berbeda dari orang lain. Semakin seseorang memikirkan kebahagiaan, rasa kesepian itu pun semakin mendera.

Seiring perkembangan zaman, media sosialpun ikut berkembang secara pesat. Kini, banyak orang mempunyai account facebook dan twitter, untuk tetap terhubung satu sama lain, untuk bisa tahu apa yang tengah dilakukan temannya atau komunitasnya. BbM, YM, instant messenger menjadi sarana penghubung yang tak kenal cuaca, waktu (waktu kerja, waktu keluarga maupun waktu berdoa, bahkan - waktu tidur sekali pun). Memang tidak semua orang ber - account twitter dan facebook maupun melakukan online chat adalah orang-orang kesepian. Premisnya tidaklah demikian. Namun faktanya, hampir semua orang sepertinya ingin menyapa dan disapa, berkomentar dan dikomentari; ingin menjadi bagian dari komunitas. Mall, cafe dan resto makin ramai dikunjungi bukan sekedar untuk mengenyangkan perut, namun sebagai kesempatan untuk networking, reuni dan menyambung rasa. Keinginan untuk keep in touch  menjadi kebutuhan yang tidak ada hentinya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, namun persoalannya, ternyata banyak orang yang tetap merasa kesepian di tengah kongkow-kongkow, di tengah keramaian maupun di tengah tingginya frekuensi lalu lintas komunikasi via chatting online. Kesepian tidak dialami orang yang tinggal di puncak gunung atau desa terpencil, karena mereka yang hidup di kota besar yang padat penduduk dan hingar bingar hiburan pun ternyata lebih banyak yang merasa kesepian.

Perasaan Kesepian
Menurut definisi wikipedia, "Loneliness is an unpleasant feeling in which a person experiences a strong sense of emptiness and solitude resulting from inadequate levels of social relationships. However, it is a subjective experience.[1] Loneliness has also been described as social pain - a psychological mechanism meant to alert an individual of undesired isolation and motivate her/him to seek social connections.[2]

Perasaan kesepian memang sering di korelasikan dengan tiadanya teman dan kurangnya kasih sayang. Menurut James Park, seorang  filsuf beraliran eksistensialis mengatakan bahwa perasaan kesepian tidak selalu disebabkan oleh kurangnya cinta dan teman, namun karena sering disalahartikan dan tidak dipahami, maka segala jenis kesepian lantas diatasi dengan cara bersosialisasi, pacaran, menikah, dsb yang semua berkaitan dengan
interpersonal relationship. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini ada uraian singkat mengenai penyebab kesepian yang ternyata bukan melulu urusan cinta.   


Penyebab Kesepian
Anak-anak, remaja, orang muda hingga manula, pernah mengalami rasa kesepian. Anak-anak merasa kesepian ketika ditinggal pergi orangtua mereka. Istri/suami yang kesepian karena kehilangan pasangan, akibat kematian atau perpisahan. Seorang gadis atau pemuda kesepian setelah putus dari pacar. Ibu yang kesepian karena anak-anaknya tinggal di luar kota. Atau seseorang yang karena sakit harus tinggal di rumah atau di rumah sakit, terisolasi dari teman-teman dan keluarga. Pindah rumah atau pindah sekolah bisa juga menyebabkan kesepian karena tercabut dari komunitasnya dan harus menghadapi komunitas baru.

Kesepian yang disebabkan perubahan sosial atau pun perubahan kondisi eksternal dikatakan bersifat temporer dan relatif lebih mudah diatasi. Sementara itu ada jenis kesepian lain yang disebutkan di atas, yakni merasa kesepian di tengah keramaian, berada di pesta, sedang berkumpul dengan teman, berada di tengah keluarga. Jadi dalam situasi dan lingkupan apapun, perasaan kesepian itu tetap ada. Inilah yang dikatakan existential loneliness. Seseorang yang mengalami eksistensial loneliness, tidak peduli sebanyak dan setinggi apapun frekuensi outing, dating dan chatting-nya, akan tetap merasa kesepian. Menurut artikel dari Associate Press, "quantity of contact does not translate into quality of contact".[3]


Existential Loneliness/kesepian eksistensial
Kesepian eksistensial kerap menjadi sesuatu yang bersifat kronis karena sudah terjadi dalam jangka waktu lama tanpa disadari atau memang sengaja diabaikan. Artinya, perasaan kesepian itu disadari namun tidak ditindaklanjuti karena berpikir perasaan itu disebabkan karena faktor lingkungan.

Kesepian yang bersifat kronis ini menimbulkan perasaan hampa yang menyedihkan, sehingga banyak yang tidak tahan dan mengalami depresi. Kehampaan yang bersumber dari dalam jiwa ini terjadi karena sebab yang bermacam-macam, bisa karena hidup tanpa arah dan tujuan, sehingga dari hari ke hari seperti robot, hanya mengikuti irama rutinitas. Ada yang belum menemukan makna, karena hidupnya sangat terbatas, bukan miskin - tapi terlalu steril, flat, datar karena terlalu takut mengambil resiko sehingga tidak berani mengarungi kesempatan dan kemungkinan. Ada pula yang merasa kosong, karena tidak menemukan hal baik dan positif dari dirinya, sehingga tidak tahu apa gunanya dia dilahirkan, apa gunanya kehidupan ini dan apa gunanya ia bagi orang lain.

Ada yang berusaha menghilangkan rasa sepi, hampa dan kosong dengan bergaul sebanyak dan sesering mungkin. Ada pula yang mencari cinta, karena dipikirnya, cinta seseorang akan melengkapi kekosongan jiwa. Seperti kata Tom Cruise dalam film Jerry McGuire, yang berkata "you complete me". Secara filosofis dan psikologis, kehampaan jiwa tidak mungkin diatasi dengan menanam cinta/import cinta dari luar, dan hal ini menurut para filsuf adalah tindakan ilusi yang "tidak nyambung". Maka, ganti pasangan, mencari cinta baru yang dianggap dan diharapkan bisa mengatasi kekosongan - adalah tindakan mustahil.  Karena solusinya tidak bisa dengan menambal kehampaan dari luar. Pertumbuhan itu harus dari dalam.


Dampak dari kesepian
Perasaan kesepian jika berkepanjangan bisa menimbulkan berbagai persoalan lanjutan. Problem adaptasi sosial, sulit berteman, suka menyendiri bahkan hambatan akademik yang membuat prestasinya jauh dari optimal, merupakan dampak dari perasaan kesepian panjang yang dialami oleh anak-anak. Bahkan, menurut Marano, anak-anak kesepian karena social rejection, diabaikan dan disingkirkan dari lingkungan sosial (ataupun keluarga), merupakan salah satu penyebab putus sekolah; karena dalam kesehariannya, mereka cenderung menunjukkan perilaku agresif, dan apa yang diistilahkan sebagai kenakalan, serta bentuk perilaku antisosial lainnya. Di kalangan dewasa, kesepian dikatakan sebagai penyebab depresi serta adiksi, baik itu adiksi terhadap relationship (co-dependent), sex, belanja (shopaholic), kerja (workaholic), alkohol /minuman keras, maupun obat-obatan terlarang (substant abuse).

Secara medis juga memperlihatkan dampak kesepian terhadap kesehatan. John Cacioppo dari University of Chicago meneliti dampak kesepian ini dan secara mengejutkan menemukan bahwa:
  • Orang yang kesepian dilaporkan mempunyai tingkat stress yang lebih tinggi, bahkan di saat rileks dibandingkan dengan orang-orang yang tidak kesepian.
  • Kesepian meningkatkan sirkulasi hormon stress dan meningkatkan tekanan darah. Pengaruhnya kepada sistem sirkulasi jantung yang bekerja lebih keras dan menghadapi potensi kerusakan akibat tekanan yang tidak stabil.
  • Kesepian mengganggu kualitas dan efektivitas tidur sehingga menghambat proses restorasi fisik maupun psikologis yang diperlukan tubuh. Orang-orang yang mengalami kesepian lebih sering terbangun malam hari dan tidur lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak kesepian.

Indahnya kesepian
Kesepian tidak selalu berdampak buruk. Kesepian eksistensial, yakni kesepian yang tidak disebabkan persoalan interpersonal merupakan alarm dari situasi yang harus segera di hadapi atau diselesaikan. 
Dengan demikian, perasaan kesepian yang dialami perlu di pertanyakan. Tidak semua bisa di obati dengan cara bersosialisasi atau pun mencari cinta yang baru. Perasaan kesepian bisa jadi pertanda bahwa ada kebutuhan mendesak yang harus kita tanggapi dalam diri sendiri, entah itu untuk menyelesaikan persoalan yang tertunda, menanggapi tantangan hidup, harus mengembangkan potensi diri, membuat keputusan akan masa depan dan menjalaninya dengan berani, atau untuk menginggalkan pola hidup selama ini yang tidak produktif, dsb. Intinya, perasaan kesepian adalah awal dari pertumbuhan. Maka, adalah keliru jika orang berusaha menghindari kesepian karena dalam sepi lah kita bisa bertemu dengan diri sendiri dan berdialog secara jujur untuk menemukan apa yang terbaik dan harus kita lakukan saat ini dan di masa mendatang. Persoalan berikutnya adalah, bagaimana menjalankan apa yang sudah seharusnya dan sudah saatnya untuk kita laksanakan. Semakin ditunda, semakin jauh kita dari perjalanan menemukan diri dan menumbuhkan kepribadian yang sesuai dengan tujuan & panggilan hidup kita.
Jadi kesepian tidak selalu membunuh khan ?. Temukan jati diri kita dalam kesepian kita.

Tuesday, November 1, 2016

Kapan Aku Bisa Bahagia

Tuhan, Kapan Aku Bahagia

Aku ingin seperti mereka yang bisa menatap dunia ini sebagai kebahagiaan yang nyata dengan kesempurnaan yang Tuhan kasih, tapi kini aku hanya bisa  menatap dan melihat teman-temanku dari jauh ketika mereka bermain dan bercanda ria,seandainya aku bisa kembali di masa kecilku.Aku ingin bermain sama mereka Tuhan, apakah aku tidak pantas menjadi teman mereka karena  sikapku seperti wanita.Apakah aku menjijikan dan harus dibuang.
Image result for sedih banget
Saat terindah itu hilang dari hidupku ketika aku beranjak remaja, bila teman-temanku terlihat sempurna dimata yang lain, tidak begitu denganku.Semua bagiku terasa semu dan teman-temanku serta orang lain maupun tetanggaku sendiri malah mengejekku dan mencaciku serta menjauhiku dan semua ini berawal ketika aku masih duduk di bangku SD kelas dua.Diri ini merasa ada yang berbeda dengan teman-temanku yang lain, mereka selalu memanggilku " BANCI atau BENCONG."

Awalnya aku tidak peduli karena aku tidak pernah tau apa yang mereka maksud.Setalah aku menjadi remaja, aku baru merasakan kesedihan yang amat dalam ketika celotehan kalimat itu dilontarkan padaku.Ternyata aku tidak sempurna yang aku kira, lebih parahnya lagi mereka selain menghinaku, juga menguncilkanku dan kritisnya mereka bukan saja menghina atau mengucilkan tapi terkadang mereka suka melempari aku dengan batu kerikil supaya aku menjauh dari mereka tapi aku selalu berusaha memaafkan mereka. Dunia ini memang kejam bagi orang seperti aku ini.Sepulang dari masa bermainku,aku langsung bersih diri dan ambil air wudlu kemudian sholat fardhu setelah itu aku mengadu pada Tuhan apa yang terjadi pada hidupku.Setetes air mataku ini sudah jatuh karena kisahku dalam hidupku kini, tapi ibu tiba –tiba datang menghampiriku dan melihat aku menangis dan ia memanggilku.

" Dino,anakku...kenapa kamu" tanya ibu sambil memelukku.

"Ibu, boleh kah aku tanya sesuatu " tanyaku

" Apa nak..."

"Ibu kenapa aku tercipta dengan jiwa perempuan bu, padahal  jasadku ini laki-laki bu,"

"Kamu sedih nak, "

"Iya bu, aku sedih gara-gara aku bersikap seperti wanita, teman-temanku dan tetangga suka menghinaku dan mejauhiku bu, kata mereka aku ini manusia hina dan ada juga yang bilang aku disuruh mati saja daripada aku mengotori dunia ini bu."

"Anakku..dengarkan ibu, ibu bangga punya anak seperti kamu, bagaimana pun kamu, kamu adalah anak ibu yang aku sayang, hidup ini adalah cobaan, masih ada ibu yang akan menjadi teman terbaikmu."

"Ibu, bolehkah aku tanya satu hal lagi,.."

" Apa itu nak.."

"Apkah Tuhan sayang sama aku..."

"Tuhan sayang sama kamu dan DIA lebih sayang sama kamu daripada teman-temanmu.."

“Tapi kenapa bu, kalau Tuhan sayang sama aku, aku tidak dikasih teman, malah teman-teman menjauhiku dan mengejekku dan mereka juga suka melempari aku dengan batu kerikil bu, apakah aku tidak pantas hidup di dunia ini,"

" kamu marah sama Tuhan?"Tanya ibu lagi.

 Aku terdiam seribu bahasa dan ibu terus memelukku tapi airmataku ini terus mengalir semakin deras.Aku sedih dan aku sempat berfikir bunuh diri tapi aku takut kalau ibu tidak ada yang menemani nanti sedangkan ayahku sangat membenciku dengan sikapku yang seperti perempuan ini sehingga pernah ayah melontarkan kata-kata kalau dia malu dan menyesal mempunyai anak seperti diriku ini serta dia juga ingin sekali membunuhku.Aku memang manusia tidak sempurna sobat, tapi aku juga tidak mau diciptakan dan ditakdirkan sebagai banci.Apakah ini sebuah pilihan,menurutku tidak, karena ini semua adalah takdir Tuhan ketika aku lahir ke dunia ini.

Hari berganti pagi.Terusik sudah aku pagi ini dengan celotehan teman-teman sekelasku.Aku masih duduk dilantai kelas dan semua teman-temanku tampaknya sinis padaku dan sedikit risih terutama teman-temanku anak laki-laki.Tetapi tiba-tiba bagas teman sekelasku yang sangat usil datang tanpa diundang didepanku dan tiba-tiba ia meludahiku dan menertawakanku.

"Eh..Dino alias bencong,kenapa sih kamu harus hidup di dunia ini, pergi saja sana ke neraka, mati saja kau, kamu itu bisa-bisanya mengotori dunia ini saja," ejekbagas sambil menendangku saat aku duduk di lantai kelas itu.

Aku terdiamdan menagis dalam hati sambil membersihkan air liyur yang membasahi rambutku.Satu hal sobat, aku memang tercipta tidak sempurna tapi Tuhan juga memberikanku kepintaran sehingga aku bisa juara kelas tiap semesternya, tapi walau begitu tidak bisa membuat aku bahagia karena tetap saja teman-temanku jahat padaku.Tak ada teman selama aku hidup beberapa tahun ini tapi ketika aku duduk dibangku SMA aku mempunyai dua teman yang sangat amat baik padaku.Mereka aditya dan laras.Mereka adalah teman yang mengerti aku dan memahami keadaanku tapi bagas dan kawan-kawan masih saja usil dan selalu mempropokotori anak-anak lain untuk membenciku sedangkan tetanggaku sudah mulai diam membisu seperti patung pancuran ketika aku mengisolasikan diri dari masyarakat sekitar selama beberapa tahun ini saat tidak ada seorang teman pun dalam hidupku.Aku hanya keluar rumah untuk keperluan penting saja dan untuk sekolah.Aku malu dengan keadaanku semakin besar malah semakin alay, aku takut dunia akan mengusirku, sobat.Ketika pelajaraan sekolah telah dimulai.Aku begitu tenang mendengar ceramah ibu guru tetapi saat kelas membicarakan tentang cita-cita aku merasa malu ketika ibu guru Tanya kepadaku.

“ dino, kira-kira cita-citamu nanti apa ya..” Tanya bu guru.

“ jadi WARIA bu…ha ha ha ha ha ha..” sahut bagas dan semua teman-teman tertawa mengejek.

Seketika jawaban bagas yang mengejek langsung membuat aku sakit hati.Rasanya sakit itu sampai menusuk tulangku dan belum aku sempat menjawab pertanyaan bu guru, bagas sudah mendahuluinya dengan asal bicara seperti itu tanpa piker panjang aku pun berdiri dengan sedikit rasa emosi dihatiku.

“Aku memang tak sempurna,apapun cita-citaku bukanlah jadi WARIA, dan perlu kalian ingat bahwa WARIA pun adalah manusia yang patut kita hargai dan hormati serta jikalau kita mengaku sebagai umat beragama dan mempunyai agama, tidak seharusnya kita merendahkan mereka ataupun menghina mereka.WARIA pun patut dlindungi seperti perempuan layaknya.Kalian tidak berhak menghakiminya.Tuhan saja tidak sampai seperti itu terhadap WARIA, apalagi kalian sebagai manusia,  seharusnya kalian malu.memangnya kalian sudah pantas masuk surganya Tuhan apa, bisa bilang seperti itu, teman-teman please don’t judge by its cover.Aku memang banci tapi aku yakin semua adalah kehendak Tuhan.Tolong hargai aku sebagai manusia seperti kalian menghargai diri kalian sendiri.” Ujarku sambil meneteskan airmataku yang sudah lama aku tahan sedari tadi.

Tetapi anak-anak sekelas setelah mendengar perkataanku tadi malah menyorakiku dan menertawakanku sekaligus melempari aku dengan sobekan kertas.Memang begitu pedih rasanya.seakan-akan dunia ini penuh dengan api yang telah membakar hatiku hari ini.Sedikit demi sedikit aku mempunyai niat-niat untuk merubah sikapku ini menjadi sikap selayaknya laki-laki dan aku ungkapan niatku ini ke aditya dan laras.Mereka pun antusias untuk membantuku.

“ baiklah, dino.kamu harus mulai dengan jalanmu yang seperti perempuan menjadi seperti laki-laki.” Kata aditya.

“ iya, kamu pasti bisa..” dukung laras dengan menebarkan senyumnya.

“ lalu..apa yang harus aku lakukan sekarang” tanyaku.

Kemudian Aditya memberikan contoh bagaimana cara berjalan laki-laki itu dengan baik dan gagah.Aku pun menirukannya sampai berulang-ulang.Semua terasa begitu sulit sobat, aku sampai patah arang tapi mereka terus menyemangatiku.Aku terus mencoba, sedikit-sedikit bisa sedikit tidak bisa.Selain itu aku pun mengikuti pencak silat,aku berharap dengan pencak silat aku bisa merubah segalanya tapi terlalu keras sehingga aku pun keluar dari organisasi ini selain keras juga penuh dengan masalah.Aku masih tersungkur dalam penderitaanku ini.Aku sudah mencoba semua segala cara untuk berubah tapi semua hasilnya nihil.Segala sesuatunya membuat aku selalu bersedih dan sedikit-sedikit rasa takut menyelimutiku hingga rasa bunuh diri itu ada dibenakku lagi tapi karena Tuhan dan ibu aku selalu takut melakukannya hingga aku memilih bersabar dalam hidup ini dan melupakan perbuatan yang dilarang agama itu,memang tak mudah hidup di dunia ini bagi orang seperti aku ini.

***

Perjalanan hidupku masih begitu panjang untuk mengarungi hidup ini.Aku masih tersungkur dalam dilema cobaan Tuhan.Pagi ini aku merasa malas untuk bangun dari ranjangku dikamar tidur.Aku ingin rasanya bisa tidur untuk selamanya agar celotehan-celotehan orang-orang tak pernah aku dengar lagi.Tapi mau apa dikata, semua ini adalah sebuah takdir  Tuhan yang harus aku jalani walau semua begitu sulit dan pedih.Tanpa aku sadari sedikit demi sedikit hidungku mengalami pendaharan (mimisan) yang sangat hebat.Darah itu terus mengalir dan membuat aku harus memanggil ibuku untuk membantuku.sobat, mimisan ini sudah aku alami berulang kali sejak kecil tapi ibu menganggapnya mimisan biasa saja tapi kali ini pendaharan itu membuat aku pingsan dan ibu bersama ayah membawa aku ke puskemas terdekat.Ayah memang membenciku tapi dia hanyalah seorang ayah kalau anaknya sakit pasti dia juga ikut cemas,dia Cuma tidak suka dengan sikap saja yang kewanitaan.Sesampainya di puskemas dokter memeriksa aku dan ia memanggil ayah dan ibu untuk berbicara sebentar diruangan dokter itu,

“bagaimana dengan anak kami dok.” Tanya ibu.

“ maaf ibu dan bapak  sebelumnya, anak saudara jika saya mendiagnosa dia terkena kanker darah bu, atau sering disebut leukemia. Dan  kanker itu sudah mejadi kanker darah stadium empat.” Ucap dokter sambil menunjukan hasil scannen penyakit itu yang ada ditubuhku.

“apa dok, bagaimana mungkin. Dokter salah mungkin.”Ibu mengelak.

“tidak bu, ini bukti klise dan scannennya.” Tunjuk dokter.

Ibu pun menangis dipelukan ayah tapi ayah malah melontar kan kata-kata yang tidak mengenakan hati.

“ biar saja anak itu cepat mati.” Kata ayah.

“ ayah..” kata ibu sambil berdiri dan menatap wajah ayah dan setelah itu ia meninggalkan tempat itu sambil berlari.

Sebenarnya ibu tidak percaya dengan diagnosa dokter itu kemudian ibu mengajak aku ke dokter lainnya.Ternyata sobat, hasilnya sama, bahwa penyakit kanker darah itu benar adanya.Aku pun lemah tak berdaya setelah aku tau kalau dokter itu memVonis aku dengan penyakit leukemia apalagi kali ini umurku kata dokter itu diperkirakan tinggal enam bulan lagi.Sungguh miris dan sangat menyedihkan cobaanku datang lagi kali ini, apa karena Tuhan sayang sama aku atau justru Tuhan benci aku karena sikapku seperti wanita.Tidak! ini adalah cobaan karena Tuhan sayang sama aku.Hampir tiap saat aku menangis dengan segala penderitaanku ini dan lagi-lagi airmata suci ini jatuh tak terkira dan aku menyembunyikan dari ibu tapi tiba-tiba ayah menyeret aku ke kamar mandi dan mengunciku disana.Aku pun menangis dengan keras dan ibu marah pada ayah.Mereka bertengkar hebat Cuma gara-gara aku.Mereka saling bantah-bantahan sedangkan aku hanya menangis dengan keras didalam kamar mandi dan semua itu tidak membuat ibu dan ayah berhenti dalam bertengkar.

“ sama anak sediri, kok ya dibenci.ayah macam apa kamu.” Ujar ibu.

“ dia bukan anakku, jangan menyebutkan aku ayah untuknya.dia bukan anakku.”

“karena dia banci  begitu, dasar kamu.tidak pernah bersyukur dalam hidup.”

“ aku ingin dia mati.” Centus ayah dengan penuh emosi.

Ayah langsung menampar ibu dan ibu tampaknya menangis setelah itu ayah pergi dari rumah.Aku hanya pasrah kali ini semuanya terlalu sulit.Seandainya aku tercipta sempurna layaknya laki-laki mungkin semua ini tidak akan terjadi.Tuhan kapan aku bahagia.tanyaku dalam hati yang masih bergelimang dalam air bak di kamar mandi.

***

Leukimia itu akhirnya kambuh lagi setelah beberapa minggu.Aku pun di opname di rumah sakit dan aku sudah tak berdaya kali ini.Aku merasa sudah terlalu sedih hidupku dengan berbagai duri-duri tajam yang tersebar dalam kehidupanku.Aku rasanya tak sanggup lagi Tuhan, jika memang ini sudah waktunya aku harus kembali padaMU aku siap kali ini.Tapi sebelumnya aku mohon izinkan aku memeluk kebahagiaan dalam hidupku untuk yang pertama dan terakhir.Aku ingin melihat ibu tidak menagis lagi dan ayah tidak membenciku lagi.Aku ingin mereka berdua menyanyangiku seutuhnya.Detik demi detik, hari demi hari aku lalui di rumah sakit ini.Aku semakin hari semaki lemah tak berdaya tapi aku masih bisa sedikit bicara sama ibu walau terbata-bata.Lidahku yang kaku dan tubuhku yang semakin kurus membuat ibu harus meneteskan airmtanya lagi.

“ iiii..buuu.akkuu minta ibu tulis sesuatu di kertas itu.” Pintaku dengan terbata-bata dan skuat tenaga.

“ apa sayang..” ibu mengambil kertas itu dan siap untuk menulis.

“ tulis ibu, Tuhan, kapan aku bahagia…..??”

Ibu pun menulisnya dan aku menyuruhnya untuk memasukaknnya dalam balon dan aku minta ibu untuk menerbangkannya melalui jendela kamar rumah sakit dan aku pun melihat balon itu terbang dengan tersenyum.Beberapa hari kemudian, ayah datang ke rumah sakit dan meminta maaf padaku tapi keadaanku sudah dalam keadaan koma sobat, sebuah penyesalan dari ayah sudah terjadi.Dia sudah menyia-nyiakan aku selama tujuh belas tahun lamanya.Aku koma selama dua bulan tapi akhirnya Tuhan mengambilku juga dengan tangannnya.Ibu dan ayah pun menangis histeris didepan jasadku,

“ apakah ibu mau memotong dan menyimpan rambut anak  ibu untuk disimpan sebelum dimakamkan?” Tanya suster itu.

“ baik sus…silahkan.aku sangat menyanyanginya.” Kata ibu sambil terus menangis.

Akhirnya rambutku dipotong dan disimpan oleh ibu jika sewaktu-waktu dia kangen sama aku.Ibu dan ayah harus kuat dan yakinlah anakmu ini akan melihat kebahagiaan yang nyata dirumah Tuhan walau itu bukan didunia tapi percayalah kalau Tuhan sayang sama dino.Aku sudah bahagia melihat ibu dan ayah baikkan dan akan selalu menyanyangiku lagi walau aku sudah pergi jauh.

Cerpen Hujan Sedih


Hujan dan Air Mata
                                                                      


Image result for hujan sedih
Aku suka jika hujan turun. Karena aku selalu ingat, ketika hujan turun aku bisa menghabiskan waktu hingga dua jam hanya berdua denganmu saja.

Aku ingat, ketika hujan turun, kau selalu menunggu jemputanmu tiba, begitu juga denganku. Entah kenapa, jemputanku dan jemputanmu selalu datang paling akhir dibanding anak-anak lain.

Saat kita menunggu bersama, seringkali hujan turun. Aku tahu betul kebiasaanmu ketika hujan turun. Kau hampir selalu menengadahkan kedua tanganmu di bawah tetesan air dari atap sekolah. Lalu kau akan usil mencipratkannya padaku, dan jika aku membalasmu kau selalu saja ngambek.

Atau, kau selalu menyobek halaman tengah buku tulismu. Lalu melipat kertas itu hingga membentu perahu. Lalu kau menghanyutkannya pada selokan di depan kita. Kau terus menatap perahu itu berlayar hingga menghilang dari hadapan kita.

Aku suka jika hujan turun. Karena sering kali ketika kau mengerjakan tugas di rumahku yang hanya berjarak empat rumah dengan rumahmu, hujan sering kali turun, menghambat kepulanganmu. Saat itulah kau lebih banyak mengeluarkan suaramu dibanding saat di sekolah. Kau ceritakan segala hal padaku. Dan saat itulah aku semakin mengenal dirimu.

                                                                        ***

Juli 2015

Sejak setengah enam tadi matahari bermalas-malasan, hingga detik ini ia tak juga muncul. Kelabu, itu adalah warna yang mendominasi langit pagi ini.

Aku masih berdiri tegak, menatap beberapa jenis bunga yang tumbuh subur di taman rumah sakit ini. Entah sudah berapa lama, mungkin sudah hampir satu jam.

Di belakangku, aku tahu kau tengah duduk sambil menatapku, aku bisa merasakan itu. Namun sejak tadi kau sama sepertiku, hanya diam.

Aku tak tahu harus berkata apa padamu, karena terlalu lama aku menjauh darimu hingga canggung hadir di dalam jiwaku saat ini. Seolah aku baru saja bertemu dengan seseorang yang  sekali pun belum pernah bertemu denganku.

Mengapa kau tak mengatakan sesuatu padaku? Marahkah kau padaku karena selama ini aku menghindarimu? Atau mungkin kau takut karena kau berpikir bahwa justru akulah yang marah padamu sehingga membuatku menjauh darimu?

“Kenapa, sejak tadi langitnya mendung terus ya?” Tanyamu tiba-tiba.

Aku melirikmu. Kulihat kau tengah menatap langit yang diselimuti gumpalan awan kelabu.

“Mendung terus, tapi kenapa nggak hujan-hujan ya?” Tanyamu lagi.

Aku tak menanggapi pertanyaanmu, karena aku tak tahu mesti berkata apa.

“Aku pengen deh, sekarang hujan turun. Rasanya udah lama banget nggak hujan-hujanan kaya dulu.”

Aku tetap diam.

Semenit berlalu, aku tak lagi mendengar ocehanmu. Bisu kembali menyelimuti kita.


                                                                                    ****

Juni 2014


Aku ingat kejadian sore itu, ketika langit mengutus gerimis untuk turun ke bumi. Hari dimana untuk pertama kalinya aku menolak permintaanmu. Hari dimana aku melihat ada yang beda darimu

“Steven!” Seseorang memanggilku, ketika aku hendak pergi ke ruang ganti. Aku enggan berhenti, karena kutahu itu pasti dirimu. Aku hafal betul suaramu.

“Stev! Tunggu.” Kudengar kau memanggilku lagi, memintaku untuk berhenti melangkah. Namun aku terus saja melangkah. Tiba-tiba sebuah ide datang di otakku. Segera kuambil headset dari dalam tasku, lalu kusumbat kedua kupingku dengan headset itu. Ujung headset itu kumasukkan ke dalam saku celanaku. Berlagak tengah mendengarkan musik, walau ujung headset itu tak kuhubungkan pada port handphoneku.

“Stev..!” Kupercepat langkahku, berharap kau menyerah dan berhenti memanggilku. Jujur, siang itu aku tak ingin bertemu denganmu. Aku ingin menjauh darimu.

“Stev…..ven. Tung….gu.” Kudengar suaramu terbata-bata, sepertinya kau terengah-engah. Entah kenapa mendengar suaramu seperti itu membuatku merasa khawatir. Segera kubalikkan badanku, mencoba memastikan keadaanmu.

Kulihat kau berdiri beberapa langkah cukup jauh di depanku. Namun dari tempatku, aku bisa melihat pergerakan dada dan perutmu. Aku tahu kau pasti terengah-engah. Aku ingin menghampirimu, tapi ada suatu bisikan di telingaku yang menyuruhku untuk tak mendekatimu. Aku diam di tempat, mematung sambil menatapmu.

Kulihat kau mengusap hidungmu berulang kali. Aku tak bisa terus berdiam diri mematung. Aku tahu keadaanmu kini sedang tidak baik-baik saja. Segera kuberlari kecil menghampirimu.

Ketika aku datang, kau masih sibuk mengusap hidungmu. Kulihat cairan berwarna merah hati terus mengalir dari lubang hidungmu. Kau berusaha untuk membersihkannya.

“Sa…, ka..kamu nggak papa?” Tanyaku iba. Mungkinkah ini salahku? Membiarkanmu berlari mengejarku. Membuat cairan itu mengalir.

Kau berhenti mengusap hidungmu. Kau tatap aku. Aku bisa melihat wajahmu begitu jelas. Saat itu, aku bertanya pada diriku, siapakah yang ada di hadapanku? Apakah yang ada di hadapanku adalah dirimu atau bukan? Karena aku merasa bahwa bukan dirimu yang tengah berdiri di hadapanku, melainkan sesosok mayat hidup. Ya, kau mirip mayat. Kulitmu lebih putih dari biasanya. Tatapanmu sayu. Bibirmu kering.

Kau tak berkata apapun, kau hanya menggeleng.

“Tadi kamu manggil aku?” Tanyaku bodoh.

Kau mengangguk.

“Maaf ya, aku nggak denger. Tadi lagi dengerin musik.” Ucapku bohong sambil melepas headset yang menyumbat kedua kupingku.

Kau mengangguk sambil menyunggingkan sebuah senyum manis. “Nggak papa kok.”

“Ada apa?”

“Mau latian basket ya? Selesai jam berapa?”

“Kamu nggak dijemput?”

Kau menggeleng “Mama sama Papa lagi ke Surabaya, nengok Kak Azriel. Terus, mobil yang satunya lagi masuk bengkel.”

Kupasang wajah penuh penyesalan “Yah, maaf Sa. Tapi aku nanti pulang maghrib. Kamu mau nunggu aku sampai maghrib?”

Ku lihat kekecewaan terpancar dari kedua bola matamu.

“Maaf ya Sa.”

“Iya, nggak papa kok. Ya udah kalau gitu, aku naik taksi aja. Eee, aku duluan ya.”

Kau segera membalikkan badanmu, melangkah menjauh dariku. Kutatap punggungmu hingga menjadi sebuah titik kecil tak kasat mata.

Kau tahu? Sore itu anak basket tengah menjadi pemain drama. Aku memang ada latihan basket, namun sejujurnya tak sampai maghrib, aku latihan basket hanya sampai jam setengah lima sore.

Maaf aku berbohong padamu. Namun sore itu entah kenapa rasanya aku enggan pulang bersamamu, dan aku enggan jika harus berdua denganmu.

Maaf tentang kejadian sore itu, karena kejadian sore itu adalah gerbang kebohonganku selanjutnya.

                                                                        ***

Januari 2013

Sadarkah kau? Tiap ada momen khusus dalam hidupmu, angkasa seolah telah merencanakan untuk mengutus rintik hujannya ke bumi. Seperti  suatu hari sepulang sekolah kau berteriak nyaring setelah membaca SMS yang awalnya aku tak tahu dari siapa.

“Apaan sih teriak-teriak?” Tanyaku sewot karena teriakanmu itu membuat telingaku serasa tuli secara tiba-tiba.

Kau mengacungkan telunjuk dan jari tengah kedua tanganmu sambil tersenyum lebar. “Maaf..” Ucapmu dengan wajah sumringah, bahkan setitik rasa bersalah pun tak kulihat di wajahmu.

“Aku seneng banget Stev.”

“Seneng banget, terus pake acara bikin telinga orang budek?”

“Maaf. Udah minta maaf juga, sewot banget sih.” Ucapmu kesal.

Aku diam, memasang wajah jengkel. Sesaat kemudian kau sodorkan ponsel cerdasmu ke depan wajahku.

From: Bu Maya

Ibu td ke Dinas penddikan

Kmu juara satu, maju ke provinsi

Begitu tulisan yang kubaca di layar ponselmu. Aku memandangmu tak percaya.

“Dari lima peserta?”

“Enak aja!” Kau memukul lengan kananku sedikit keras hingga berbunyi. “Nggak ngerti dari berapa peserta, yang aku ingat dari empat puluh satu sekolah.”

Dan, hari ini pun menjadi momen yang menurutku itu adalah momen besar untukmu. Hari ini Adit dengan malu-malu menyatakan perasaannya.

Kau tahu? Agatha, sahabatmu yang juga merupakan sepupu tak kukehendaki (ya, karena Tuhan tanpa meminta persetujuanku menakdirkanku memiliki sepupu selayaknya ibu tiri dalam kisah Cinderella sepertinya) Menakut-nakutiku.

“Hari ini Adit mau nembak Lissa. Lo udah tahu?” Tanyanya datar.

“Ya udah lah, orang dia temen gue.”

“Terus?”

“Terus? Maksudnya?”

“Ya terus lo gimana? Ngebiarin aja Lissa ditembak Adit?”

“Ya iyalah. Masa gue mau nglarang Adit nembak Lissa?”

“Lo nggak papa?”

“Ya nggak papa.”

Agatha memasang wajah putus asa “Kok lo nggak ada ekspresi apa-apa sih? Masa gitu? Lissa mau ditembak Adit kok lo tenang-tenang aja?”

Aku tertawa geli. “Oh, maksud lo, gue suruh panik gitu. Suruh panas, suruh was-was kaya lo gitu? Suruh berlebay-lebay ria?”

“Ya iyalah, dimana-mana kalau gebetan kita mau diambil orang jelas kita khawatir.”

“Santai aja lah. Selama ini siapa sih yang pernah diterima Lissa? Lagian lo sendiri kan yang bilang kalau Lissa itu Royal Princess. Like a diamond, Cuma orang-orang yang bener-bener mampu aja yang bisa jadi pacarnya. Jadi, santai aja lah.”

“Iya, emang bener. Tapi, gimana kalau kali ini dia nerima Adit?”

“Ya, berarti gue harus turut berbahagia karena sahabat gue jadian sama sahabat kecil gue.” Ucapku sambil tersenyum santai.

Kau tahu, aku selalu memasang wajah riang dan santai di hadapan Agatha dan aku selalu sukses membuatnya percaya bahwa aku baik-baik saja, walau kenyatannya aku tak begitu. Kenyataannya aku selalu khawatir bila ada seseorang yang menyatakan perasannya padamu.

Jujur, siang tadi aku begitu khawatir. Aku takut jika kau juga memiliki rasa yang sama dengan Adit. Karena sama dengan anak-anak yang lain, menurutku kau dan dia begitu serasi. Menurutku, kau dan dia begitu dekat. Dan aku selalu melihat kau selalu tertawa bahagia saat dia ada di dekatmu.

Namun sepertinya Cupid siang tadi batal untuk datang ke taman sekolah, hadir di antara kau dan Adit. Karena siang tadi langit nampak pucat, matahari bersembunyi malu-malu dibalik kelabunya awan. Meski di sekolah tadi hujan belum turun, mungkin di rumah Cupid, hujan sudah turun dengan lebat, sehingga ia enggan datang untuk memanah hatimu untuk Adit.

Tak perlu berbohong, tentu aku senang ketika kau mengatakan. “Di luar sana, ada yang jauh lebih baik dari aku yang aku yakin juga memiliki rasa yang sama dengan yang kamu rasakan.”

Tapi aku ingin tertawa jika harus berkata jujur tentang perasaanku. Aku senang, namun aku merasa kasihan pada Adit. Ya, kau tahu kan dia sahabatku? Sangat kejam rasanya jika aku harus tertawa bahagia ketika Royal Princess sepertimu tak memiliki rasa yang sama dengan apa yang ia rasakan. Namun, kenyataannya aku memang bahagia ketika aku tahu hal itu. Ah, aku memah sahabat yang kejam.

Kau tahu? Tuhan adalah sutradara yang sangat pandai membuat sebuah drama kehidupan. Ketika kau mengatakan hal itu, mendadak saja gerimis turun. Lucu, itu menurutku. Adit tak menangis, namun kutahu hatinya menangis, dan langit mewakili tetesan air matanya dengan air hujan.

                                                                                    ***

Maret 2013

Pagi ini aku dan yang lain begitu menanti kehadiranmu. Tiga hari kau tak hadir di antara kami, demi mengharumkan nama sekolah bersama grup orchestra sekolah. Kami sangat ingin mendengar pengalamanmu selama tiga hari di luar kota. Kami ingin tahu apakah kau dan anak-anak orchestra lainnya pulang membawa kemenangan atau tidak.

Jam menunjukkan pukul 06:50 tapi kau belum juga muncul di hadapanku dan yang lainnya, hingga bel tanda pelajaran pertama dimulai kau belum juga muncul di hadapan kami.

Sepuluh menit berlalu, ketika guru berwajah Eropa dengan mata sipit seperti orang Jepang itu mengabsen kami, tiba-tiba saja pintu kelas yang tadinya tertutup rapat secara perlahan terbuka. Sesosok gadis berambut panjang yang acak-acakan muncul dari balik pintu, gadis itu adalah kau.

Kau melangkah mendekati guru itu sambil merapikan dirimu. Penampilanmu tak seperti anak lainnya. Kau layaknya seorang atlet yang baru saja selesai mengikuti lomba maraton.

“Maaf Pak, saya terlambat.” Ucapmu tanpa memandang guru itu. Entah mengapa kau menundukkan wajahmu, tak memandang guru itu. Mungkin, saat itu kau berpikir bahwa yang ada di hadapanmu adalah Pak Eros, maka kau merasa takut lalu menundukkan wajahmu.

Kau salah, guru itu bukan Pak Eros, melainkan Kak David. Guru paling cakep dan kece menurut sahabat-sahabat perempuanmu, dan tak bisa kupungkiri, menurutku juga begitu, guru itu tampan dan keren bahkan menurut semua anak laki-laki di kelas kita, guru itu memang tampan dan keren.

Guru itu memandangmu dalam diam. Ia menatapmu lekat, entah mengapa guru itu tak berkata apapun. Perlahan kau mengangkat wajahmu, mungkin saat itu kau kebingungan mengapa Kak David yang kau kira Pak Eros tak berkata apapun dan tak memarahimu.

“Lissa?” Ucap guru itu ragu ketika kau telah mengangkat wajahmu.

Kulihat ada rasa kaget yang terpancar dari kedua matamu, dan pada wajah Kak David pun juga begitu. Kalian saling diam beberapa detik, tak sampai satu menit. Jika apa yang kau alami adalah sebuah sinetron atau film, mungkin benda-benda dan orang lain di sekitar kalian menjadi blur. Lalu terdengar music tegang atau menye-menye. Namun kenyataannya tak begitu, karena kejadian itu bukanlah sinetron ataupun film.

Kau segera menundukkan wajahmu lagi. Entah itu hanya perasaanku atau bukan, kurasa kau begitu ketakuatan dan tak ingin menatap wajahnya.

“Ee..saya boleh duduk?” Tanyamu sedikit terbata.

Kak David mengedipkan kedua matanya, dengan kikuk dia menjawab. “E, eh, iya. Boleh, silahkan duduk aja.”

Kau berjalan cepat munuju bangkumu, seolah kau menghindari cowok itu.

Kenapa Lissa kaya kaget gitu ya? Kaya udah pernah ketemu Kak David, apa emang pernah ketemu, atau mungkin mereka saling kenal? Batinku bertanya.

                                                            ***

September 2013

Kemarin sore di rumahku, seperti biasa aku dan kamu mengerjakan pekerjaan rumah. Kali ini tak tahu kenapa kau yang meminta untuk datang ke rumahku. Padahal hari itu aku sedang tak membutuhkan bantuanku, dan kurasa kau tak pernah minta bantuanku untuk mengerjakan pekerjaan rumah karena mungkin kau sadar bahwa aku terlalu bodoh untuk membantu anak secerdas dirimu menyelesaikan pekerjaan rumah.

Ada yang beda darimu. Kau tampak tak bersemangat. Sebisa mungkin kucoba untuk bersikap  biasa dan menceritakan berbagai hal padamu agar kau tersenyum. Ya, kau memang tersenyum, namun kutahu senyummu itu bukan senyum yang biasanya kau berikan untuk orang-orang di sekitarmu. Senyummu adalah sebuah senyum simpul yang relatif sepat bak pisang belum matang. Bukan senyum masam yang menyegarkan yang dimiliki oleh jeruk nipis, senyummu sepat, menggelikan di lidah.

Aku menyerah. Lalu suasana selayaknya lagu milik Jamrud yang berjudul Pelangi di Matamu pun terjadi. Tiga puluh menit aku dan kamu saling diam dan membisu. Hingga akhirnya aku berusaha memancingmu agar kau mau menceritakan hal yang kuduga telah membuncah di dalam benakmu.

Memancingmu bicara seperti memancing ikan hiu dengan pancingan ikan lele. Rambutku serasa memutih, gigiku mulai ompong, dan aku pun mulai terbungkuk demi menunggumu bicara.

Puji Tuhan Pekikku dalam hati ketika kau mulai membuka suara.

Saat kita sampai pada pertengahan ceritamu menuju klimaks. Tuhan mengagetkanku dengan suara petir, aku berteriak bak anak perempuan, dan kau…Kau diam dan memasang wajah datar. Rasanya saat itu jiwaku dan jiwamu tertukar. Bukankah seharusnya aku yang santai sepertimu dan kau yang menjerit kaget selayaknya mahluk bernama hawa pada umumnya?—berteriak lebay.

Aku terus mendengarkan ceritamu. Ya terus mendengarkannya, hingga akhirnya kutahu siapa tokoh utama selain dirimu dalam ceritamu.

Kagetku ketika mendengar nama itu melebihi kagetku ketika mendengarkan suara petir tadi. Di akhir ceritamu kau hanya diam, dan aku tak bisa menanggapinya, aku tak bisa berkata apa-apa, atau lebih tepatnya aku tak berani berkata apapun.

Sore itu aku jadi tahu, apa alasanmu mempertahankan kesendirianmu dan menolak banyak Royal Prince yang berusaha untuk memilikimu.

Aku biarkan kau diam. Ya…ya, dan akhirnya lagu Jamrud itu terjadi lagi untuk yang kedua kalinya.

Aku menatapmu iba. Wajahmu sendu, tapi kulihat matamu memerah. Kutahu kantung matamu sudah penuh dengan air mata. Mengapa tak kau teteskan saja?

Seolah terhipnotis, tanpa sadar tangan kananku menggenggam tangan kananmu. Aku sedikit geli melihat perbedaan kulitku dan kulitmu, bagaikan susu vanilla dan susu cokelat. Tentu milikku lah yang menjadi susu coklat.

“Nangis aja Sa, jangan ditahan.” Ucapku sambil menatapmu sendu.

Kau mengatupkan kedua kelopak matamu, dan saat itu juga aliran sungai terbentuk di kedua pipimu, bersamaan dengan langit yang juga menangis.

                                                                                    ***

Aku takut, setelah aku mendengar ceritamu. Kini Royal Princess telah bertemu dengan Royal Princenya. Aku selalu berusaha meyakinkan diriku

Tenang Stev, Lissa kan masih marah sama Kak David. Lissa kan udah bilang kalau sepertinya dia nggak akan nerima Kak David lagi. Lo nggak perlu khawatir

Itu yang selalu kukatakan pada diriku. Aku berusaha untuk tenang dan tak terlalu khawatir, tapi tetap saja aku selalu takut. Terlebih ketika pelajaran musik, di mana aku selalu melihat Kak David memberikan pandangan yang berbeda untukmu tak seperti pandangan yang ia berikan untukku dan anak-anak lainnya.

                                                ***

Oktober 2013

Tadi sore seusai rapat tim jurnalistik, gerimis mengiringi tiap langkahku menyusuri koridor sekolah. Hatiku tak sekelabu awan sore tadi, aku merasa begitu bersemangat untuk pulang. Itu karena aku berharap kau tengah menunggu jemputanmu, sehingga aku dan kamu bisa menunggu jemputan bersama, karena kutahu saat itu kau tengah latihan bersama tim orchestra.

Langkahku kupercepat, ketika kulihat kau tengah berdiri seorang diri beberapa meter di hadapanku. Namun mendadak langkahku terhenti, rasanya kakiku kaku ketika kulihat Kak David tengah menghampirimu dari arah yang berlawanan denganku.

Kulihat Kak David mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, lalu ia mulai mengusap hidungmu. Bisa ditebak, benda itu adalah sapu tangan atau tisu lalu dia membersihkan darah yang mengalir dari hidungmu.

Oh, betapa perhatiannya dia, bahkan semenjak pertama kali aku tahu ada yang tak beres darimu, aku tak pernah berani untuk mengusap darah yang mengalir dari lubang hidungmu. Bahkan aku pun tak pernah melihat Agatha, Zahra dan Azizah mebersihkan darah itu.

Brengsek!

Kalian layaknya William dan Kate Middleton.

Kau tahu? Benda kecil dalam diriku yang sering kusebut hati ini terasa perih. Rasanya aku terserang penyakit Hepatitis B. Sakit sekali, meski aku tak pernah tahu bagaimana rasa sakit jika mengidap penyakit itu.

                                                                        ***

Februari 2014

Apakah kau ingat di sore itu, hari dimana kau memanggil-manggil namaku namun aku tak menghiraukanmu, hingga akhirnya kau terengah-engah dan membuat cairan merah itu mengalir dari kedua lubang hidungmu? Lalu aku mendekatimu dan berkata

“Maaf ya, aku nggak denger. Tadi lagi dengerin musik.”

Tahu kah kau jika aku berbohong? Sadarkah kau jika aku menghindarimu? Maaf, sore itu aku harus bersandiwara karena aku tak ingin bersamamu.

Kau harus tahu, jika aku terus bersamamu, maka aku harus menerima kenyataan bahwa kau dan Kak David adalah pasangan serasi. Sebuah kenyataan yang dengan terpaksa harus ku terima.

                                                                        ***

Maret 2014

Agatha mengatakan padaku bahwa kau mengira aku marah padamu karena aku selalu menghindar. Lalu ia mengatakan bahwa aku harus menghentikan semua ini.

Jujur, aku ingin menghentikannya, tiga bulan menjauh darimu rasanya ada yang aneh dalam hari-hariku. Sungguh, aku ingin kembali dekat denganmu. Namun keinginan itu selalu saja hilang bila aku melihat mu dan Kak David pulang bersama, terlebih dikala hujan turun.

                                                            ***

Agustus 2014

Hari ini kau masuk rumah sakit. Aku segera menuju ke sana begitu mendengar kabar itu. Setibanya di rumah sakit ku lihat Papa, Mama dan Kak Eizel tengah menunggu di koridor rumah sakit. Di sana juga ada Agatha dan Azizah juga…Kak David.

Brengsek! Kenapa ia sudah berada di rumah sakit? Kenapa dia tiba lebih dahulu dibandingkan denganku? Tidak..tidak, bukan masalah siapa yang datang duluan, namun masalahnya adalah mengapa aku harus berada di rumah sakit bersamanya?

                                                            ***

April 2015

Aku senang kau sudah sadarkan diri dari tidur panjangmu semenjak bulan Agustus tahun lalu. Ingin rasanya aku menjengukmu, namun ada bisikan yang mengatakan agar aku membatalkan niatku. Bisikan itu mengatakan bahwa tentu ada Kak David di sisimu, maka kuurungkan niatku.

Aku tidak benci Kak David, namun aku hanya tak ingin kalian tahu bahwa aku selalu salah tingkah jika hadir di antara kalian berdua.

                                                            ***

Plakkk

Panas! Sebuah tamparan keras dari Agatha mendarat di pipi kananku. Membuat pipiku menjadi lebih hangat dari anggota tubuhku yang lain.

 “Udah berapa kali gue memohon ke lo supaya lo dateng buat jenguk dia? Udah berapa kali gue minta ke lo buat muncul di hadapan dia walau cuma sepuluh menit aja Stev?” Tanya cewek bermata sipit itu sambil menatapku lekat. Tatapannya seperti serigala yang sudah dua malam belum makan yang tengah mengintai seeokor anak kijang yang baru lahir.

Aku diam sambil mengelus pipiku yang masih terasa panas.

“Sekali aja Stev, gue mohon banget. Sekali aja muncul di hadapannya. Apa lo nggak pengen ketemu sama dia?”

Aku masih diam. Kedua bola mataku menatap ke luar kafe dari balik jendela kaca ini. Di luar sana, orang-orang berlari kecil mencari tempat berteduh. Mereka yang mengendarai sepeda bermotor berhenti di bawah pohon untuk mengenakan mantel. Rintik hujan semakin deras.

“Stev, lo bisa ketemuan sama dia di suatu tempat yang hanya ada lo dan dia. Nggak ada orang lain, dan tentunya nggak ada Kak David.”

Aku tetap diam. Kedua bola mataku masih menatap jalan raya.

“Nggak ada yang tahu berapa lama lagi dia masih bisa hadir di dalam hari-hari kita. Gue mohon Stev”

Ku dengar Agatha mulai terisak.

                                                                        ***

Juli 2015

“Steven..” Kudengar suaramu dari arah kiri.

Kuputar badanku, kudapati dirimu tengah berdiri di hadapanku sambil tersenyum manis.

Aku menatapmu dengan datar.

Kau segera menundukkan wajahmu, lalu menggigit bibir atasmu. Kau tatap tanah. Entah apa yang kau tatap. Mungkin kakimu, bebatuan atau mungkin kakiku.

“Oh ya, aku mau ngasih ini ke kamu.” Kau sodorkan sebuah buku padaku.

Mataku bertanya “ini apa?”

“Itu, hasil hunting foto kita selama ini. Tiga minggu yang lalu, aku iseng aja lihat-lihat hasil hunting kita, dan tiba-tiba aja muncul ide buat nyetak itu dan dijadiin album. “ Jawabmu seolah kau bisa membaca pertanyaan tak terucap dari kedua bola mataku.

Kedua bibirku mengerucut. Kuanggukkan kepalaku sambil menatap buku tadi. Sejujurnya kedua mataku ingin menatapmu, namun hatiku enggan melakukannya.

Kulihat kau mengepalkan kedua tanganmu. Kau gigit bibir bawahmu. Kau kernyitkan keningmu, kedua alismu bertaut.

Aku yakin pasti kau kesal dengan sikap diamku. Maaf jika sikapku membuatmu kesal, namun aku benar-benar merasa canggung.

“Ada yang mau diomongin lagi nggak?” Tanyaku tiba-tiba.

Bodoh! Ya Tuhan, mengapa aku melontarkan pertanyaan seperti itu padamu? Pertanyaan itu sama saja dengan kalimat “Udah nggak ada yang mau diomongin lagi kan? Kalau nggak ada gue mau pergi.”

Kau menatapku dengan mimic wajah kaget, kau terlihat gelagapan. “E..eng..nggak ada kok. Udah, cuma mau kasih itu ke Steven.” Ucapmu kikuk.

Kau segera membuang pandanganmu.

Lima menit berlalu. Segurat cahaya panjang berbentuk zig-zag tampak di langit pucat, sedikit menggantikan peran sinar sang mentari untuk menerangi pucatnya langit.

“E..Kamu pasti banyak acara ya? Maaf ya kalau udah ngebuang waktumu. Aku cuma mau kasih itu aja kok.” Ucapmu terbata-bata

Kau menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajahmu, menaruhnya di belakang kuping kananmu.

Kudengar napasmu terengah-engah, begitu jelas seperti suara kucing yang sedang tidur. Mau tak mau, aku terpaksa memandang wajahmu. Kulihat darah mengalir dari kedua hidungmu.

Aku tak memberikan titah pada tangan kananku, tanpa izin dariku tangan kananku segera membersihkan darah itu. Kau terhenyak, segera menyingkirkan tanganku dengan lembut.

“Hidung kamu berdarah Sa.” Ucapku lirih, aku khawatir.

“Eh..nggak papa kok.” Kau segera membersihkan darah itu.

“Sa, aku antar ke kamar ya?”

“Eh, nggak usah. A..Aku ke kamar sendiri aja.” Kau segera membalikkan badanmu sehingga memunggungiku, namun sesaat kemudian kau kembali membalikkan badanmu, hingga berhadapan denganku,

“Aku ke kamar dulu.” Ucapmu lalu menarik napas dalam.  “Maaf, kalau selama ini udah bikin Steven kesel.”

Dadamu kembang kempis. Aku yang hanya melihatmu merasa tersiksa, bagaiaman denganmu yang mengalami susahnya bernapas?

 “Sa, biar aku antar ke kamar.” Ucapku sambil meraih pergelangan tanganmu, menghentikan langkahmu.

Kau menggeleng. Wajahmu sama dengan sore itu, pucat sepeti mayat hidup. Kulit tanganmu sedingin es batu. Bibirmu kering.

“Aku bisa sendiri.” Ucapmu nyaris tak terdengar

Kau berusaha menepis tanganku, namun tak berhasil. Bukan genggamanku yang terlalu erat, namun tepisanmu kurasa tanpa kekuatan.

Kau mengusap hidungmu lagi. Sungguh, aku tak akan membiarkanmu menuju kamar rawatmu seorang diri.

“Sa, ayo aku antar ke kamarmu.”

Kau menggeleng. Dadamu kembang kempis, kau pejamkan kedua matamu. Ada sebuah garis berwarna lebih tua dari warna kulitmu di kedua pipimu. Kau mengusap garis itu, membuatnya tampak samar.

“Sa…”

Kau mulai terisak. Kau pandang aku lekat, aku balas memandangmu lekat. Air bening kembali mengalir dari kedua matamu.

Aku menatapmu lembut. Ingin rasanya kuhapus air matamu, namun pergerakan tanganku tertahan.

Kau memandangku sayu lalu dengan sekali gerakan kau rangkulkan kedua tanganmu pada tengkukku. Aku terenyak, lagi.

Isakanmu semakin jelas, dicampur dengan suara napasmu yang semakin tak beraturan.

“Kemana aja selama ini?” Tanyamu sesenggukan.

“Jangan pergi lagi. Aku minta maaf kalau udah bikin kamu marah.”

Lissa, kau tahu? Aku tak pernah marah padamu, aku hanya marah pada perasaanku. Mengapa harus ada sakit yang kurasa? Ah, aku benci perasaan itu.

“Iya, aku nggak akan pergi lagi.” Ucapku sambil mengusap rambut hitammu dengan lembut.

“ Aku sayang sama kamu. Jangan pergi.”

 “Aku juga sayang kamu. Sayang banget..” Ucapku lirih, dan…perih.

Gerimis perlahan turun. Kau masih terisak. Kau tahu? Aku bersyukur hujan mulai turun, karena tanpa kau sadari aku menangis.

Menangis karena akhirnya aku bisa mengucapkan kata itu padamu. Menangis karena aku tahu sayangmu padaku sama dengan rasa sayangmu untuk Adit, Vano, Agatha dan sahabatmu yang lainnya. Menangis karena aku yakin bahwa memang rasa sayangmu untukku tak sama denga rasa sayangku untukmu, karena saat ini, di hadapanku, Kak David tengah berdiri sambil membawa payung. Aku yakin kau menyadari kehadirannya. Dan aku yakin Kak David mendengar kau mengucapkan kata sayang padaku.

Hujan Membawa Sedih

 sebuah cepen karya anak bangsa dari  Risti K.

Image result for hujan membawa sedihHujan memberikan cerita berbeda seiring bertambahnya usia. Usiaku, bukan usianya. Hujan juga memberikan kesan yang tak sama selama perjalanan hidupku. Hujan yang turun di waktu yang berbeda, bukanlah hujan yang sama. Kau keliru jika kau merasa bertemu hujan ketika ia turun setelah lama merindukannya. Karena hujan yang kau rindukan dengan hujan yang datang kemudian adalah hujan yang berbeda.

Saat usiaku masih dalam hitungan jemari, hujan adalah keceriaan. Usiaku 7 tahun, dan aku selalu bahagia saat hujan turun. Hanya mengenakan celana bola, bergerombol mengelilingi desa dengan sepeda, saling memanggil dengan berteriak, bernyanyi, tertawa, ah indah sekali. Saat itu, hujan adalah teman baikku, saat dimana keputusan tersulit dalam hidup hanyalah menentukan pulang lewat jalan yang sama atau berputar melewati desa sebelah.


Tak terlalu jauh dari masa sekolahdasarku, hujan menjadi sangat kejam di mataku. Aku menjadi anak berumur 13 tahun yang selamat dari cengkraman maut. Saat itu hujan turun dengan sangat bersemangat, dan sebuah truk menabrak sepeda motor yang sedang dikendarai ayahku, dan aku dib elakangnya. Aku selamat, tapi tidak dengan ayah. Dengan mata kepalaku sendiri, kulihat darah dari tubuh ayah tersiram hujan dan mengalir bersama air menggenangi jalan raya yang seketika dipenuhi banyak orang. Aku menahan tangis sambil mengatur detak jantung yang kuharap berhenti saat itu juga. Nafasku sesak. Tubuhku basah kuyup diserbu air sialan yang membuat jalanan sangat licin sehingga ayah tidak bisa mengendalikan rem dengan baik saat truk (yang jauh lebih sialan) itu melaju cepat di jalur terlalu kanan. Aku masih mengingat jelas kejadiannya. Bahkan sampai detik ini. Ya, kalau tidak, aku tidak akan bercerita seperti ini. Hujan adalah musuh terbesarku saat itu. Aku membencinya, bahkan sangat membencinya.

Ketika mulai beranjak dewasa, tepatnya di usia 25, aku menemukan seorang wanita yang tak tak pernah berhenti membuat hatiku penuh sesak dengan cinta. Aku tipikal pria pendiam, jadi tak heran jika sampai usia 25, aku belum pernah berpacaran sama sekali. Aku belum pernah menyatakan perasaanku pada wanita manapun. Dan lagi pula, aku memang belum pernah mencintai dengan cinta pada level dimana aku merasa harus mengutarakannya. Tapi kali ini berbeda. Aku benar-benar jatuh cinta. Gadis itu sempurna menjadi wanita kedua yang sangat kusayangi, setelah ibuku. Gadis berambut hitam panjang itu memaksa hatiku untuk menyatakan cinta itu.

Kata Ibuku, wanita takkan mudah lupa jika diperlakukan dengan tidak biasa oleh laki-laki. Tentu saja ‘tidak biasa’ disini adalah ‘tidak biasa’ yang berkesan baik. Karena ia adalah wanita pertamaku, dan juga kuharapkan menjadi yang terakhir bagiku, maka aku akan membuat pengakuan cinta ini menjadi sangat spesial. Maka aku datang kerumahnya ketika hujan, memanggil namanya, dan melamarnya. Aku tidak terlalu optimis, sebenarnya. Aku datang dengan hanya membawa cinta. Tanpa kendaraan, karena rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumahku. Tanpa gelar, karena aku bahkan tidak memiliki cukup uang untuk melanjutkan kuliah. Tanpa bunga, karena uangku hari ini hanya cukup untuk membeli obat untuk ibu. Dan tanpa cincin, bunga aja gak kuat beli apalagi cincin. Tapi mungkin Tuhan mengirimkan malaikat-malaikat keberuntungan lewat bulir-bulir hujan. Aku diterima, olehnya, dan juga keluarganya. Ayahnya memang sangat menyukaiku, aku pernah mendengar beliau mengatakan itu pada ibuku. Katanya, aku adalah salah satu pemuda di lingkungan tempat tinggalku yang, walaupun pendiam, tapi sangat baik dimata masyarakat.

Dan akhirnya kami menikah, setelah bekerja keras menabung untuk biaya pernikahan kami. Saat itu, istriku sangat menyukai hujan. Katanya, hujan adalah definisi dari kata romantis. Dia bilang, pria yang menyatakan cinta di tengah derasnya hujan adalah pria romantis. Menurutku biasa saja, tapi karena aku mencintai istriku, jadi saat itu aku ikut menganut faham raintisme atau apalah itu namanya. Yang kutahu, saat itu hujan adalah dewa keberuntunganku.

Lalu satu setengah tahun setelah pernikahanku, istriku melahirkan. Aku sedang berada di sebuah kantor megah yang belum jadi, saat salah seorang tetaggaku menelepon dan memberitahu bahwa istriku dibawa kerumah sakit karna perutnya mulai mulas. Aku seorang kuli bangunan yang sedang mengerjakan sebuah kantor yang rencananya akan di bangun setinggi 9 lantai. Dan saat itu aku sedang beristirahat karena hujan turun sangat deras. Namun setelah mendapat telepon dari tetanggaku, tanpa pikir panjang aku langsung meminta izin pada Pak Mandor dan mencari bajaj menuju rumah sakit.

Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan pakaian basah kuyup karena kehujanan. Hingga sampailah aku di hadapan dokter yang langsung menyambutku dengan berita yang membuat lututku lemas seketika. Aku ingat, beberapa bulan yang lalu aku sempat meminta istriku menggugurkan kandungannya karena dokter bilang kondisi rahimnya tidak terlalu baik. Tapi ia tetap ingin mempertahankannya. Mempertahankan anak kami. Dan di tengah deras hujan yang dilengkapi dengan petir yang sahut menyahut dengan lantang, akhirnya anak pertama kami lahir dengan selamat. Tapi tidak dengan ibunya.

Kukira, hari kelahiran anak pertamaku akan menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupku selain hari pernikahanku. Tapi siapa yang pernah mengira bahwa hari yang kunanti itu ternyata bertepatan dengan hari kematian istriku. Perempuan yang sangat kusayangi, pergi demi keselamatan perempuanku yang lain. Aku mati rasa. Tak mengerti merasakan apa, tapi pipiku tanpa sadar dititiki air mata. Air mata…. Aku berani sumpah, sejak masuk sekolah menengah pertama, aku tak pernah menangis. Tidak sama sekali, bahkan ketika ayahku meninggal dunia sekalipun.

Aku pernah berkata, tidak akan ada satu hal pun yang bisa membuatku menangis. Dan jika hal itu terjadi, itu adalah hari dimana aku gagal menjadi seorang laki-laki. Dan tanpa sama sekali kusangka, hari itu pun tiba. Aku menangis. Iya, menangis. Sialan.

Hujan. Ia mengingatkanku pada banyak hal yang kulewati dalam hidup ini. Ia mengingatkanku rasa bahagia, rasa kehilangan, rasa sakit, rasa cinta, dan bahkan kesedihan yang sebelumnya tak pernah kuterka. Ya, siapa juga yang mampu menerka takdir.

Hari ini rintik-rintik hujan menggelitik dedaunan yang sudah hampir seminggu tidak terjamah air langit itu. Dan dalam hitungan detik, gerimis menyeru memanggil sekutu dan kemudian hujan melantun dengan merdu. Sudah satu minggu sejak kelahiran putri pertamaku, artinya sudah satu minggu pula istriku pergi meninggalkanku, dan meninggalkan semuanya. Aku sudah baik-baik saja, paling tidak aku terlihat baik-baik saja. Orang-orang bilang, anakku sangat cantik. Tapi aku sendiri belum pernah memandangi wajahnya lebih dari satu menit. Aku selalu mengingat almarhumah istriku setiap kali melihat wajahnya. Sejujurnya, aku belum bisa menerimanya. Menerima semuanya.

Angin mendampingi derasnya hujan sore ini. Tak ada satu pun anak-anak kecil berlari sambil telanjang dada dan tertawa menikmati segarnya air hujan seperti yang selalu kulakukan dulu. Tak ada lagi keceriaan itu. Sepertinya hari ini hujan tidak membawa kabar gembira, seperti hujan terakhir yang mengguyur tubuhku seminggu yang lalu.

Aku mendengar suara istriku. Ah, tidak, bukan istriku, itu suara tangisan putriku. Entah apa yang ia tangisi. Ia bahkan tak tau kalau ibunya pergi hanya demi membiarkannya merasakan pahitnya hidup. Kalau saja aku bayi dan aku bisa memilih, aku pasti akan memilih mempertahankan hidup ibuku. Seandainya semua bayi tau betapa beratnya hidup…. Kasihan putriku….

Aku memandangi wajah anakku. Lama. Ini yang terlama yang pernah kulakukan sejak hari pertama aku berbagi oksigen dengannya. Dan mereka tidak berbohong, ia memang sangat cantik. Cantik. Andai saja aku bisa menggendongnya, menimangnya, dan mencium pipi merahnya.

Seorang laki-laki berbadan tegap menghampiri seorang wanita yang tengah mengayun-ayun putriku dalam pelukannya.
“Ini,” ucapnya seraya memberikan secarik kertas yang dimasukkan kedalam plastik bening.
“Apa?” tanya wanita itu.
“Baca sebentar, sebelum kami bawa ke kantor polisi,” ucap laki-laki bercambang panjang itu.

Wanita yang sedang berusaha mendiamkan putriku dari raungannya itu mengambil apa yang diberikan laki-laki berseragam itu dengan sebelah tangannya.
“Siapapun yang baca ini, tolong jaga Ara, dan kalau bisa tolong lunasi hutang biaya rumah sakit juga. Maaf ngerepotin.”
“Kami menemukan ini di dekat tempat korban meminum racun serangga,” ucap polisi itu.

Wanita tadi memberikan lagi surat kecilku itu pada polisi, membuang muka, dan dengan wajah tak senang pergi meninggalkan rumah kecil yang sedang ramai dikerubungi warga, setelah sebelumnya meminta seseorang lain membukakan payung untuknya.